Sejarah pulau penyengat.
Menurut cerita, pulau mungil di muara Sungai Riau, Pulau Bintan ini sudah lama dikenal oleh para pelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar
yang cukup banyak tersedia di pulau ini. Belum terdapat catatan
tertulis tentang asal mula nama pulau ini. Namun, dari cerita rakyat
setempat, nama ini berasal dari nama hewan sebangsa serangga yang mempunyai sengat. Menurut cerita tersebut, ada para pelaut yang melanggar pantang-larang ketika mengambil air, maka mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa. Binatang ini yang kemudian dipanggil Penyengat dan pulau tersebut dipanggil dengan Pulau Penyengat. Sementara orang-orang Belanda menyebut pulau tersebut dengan nama Pulau Mars.[1][3]
Tatkala pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau itu ditambah menjadi Pulau Penyengat Inderasakti. Pada 1803, Pulau Penyengat telah dibangun dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dan kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga sementara Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Pada tahun 1900, Sultan Riau-Lingga pindah ke Pulau Penyengat. Sejak itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam dan kebudayaan Melayu.[3]
Imperium Melayu
Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwan jatuh bangunnya Imperium Melayu, yang sebelum terdiri dari wilayah Kesultanan Johor, Pahang, Siak dan Lingga, khususnya di bagian selatan dari Semenanjung Melayu. Peran penting tersebut berlangsung selama 120 tahun, sejak berdirinya Kerajaan Riau di tahun 1722, sampai akhirnya diambil alih sepenuhnya oleh Belanda pada 1911.[1]
Perang Saudara tahta Johor
Awalnya pulau ini hanya sebuah tempat persinggahan armada-armada pelayaran yang melayari perairan Pulau Bintan, Selat Malaka dan sekitarnya. Namun pada tahun 1719 ketika meletus perang saudara memperebutkan tahta Kesultanan Johor antara keturunan Sultan Mahmud Syah yang dipimpin putranya Raja Kecil melawan keturunan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah yang dipimpin Tengku Sulaiman.[1]
Pulau Penyengat mulai dijadikan kubu pertahanan oleh Raja Kecil yang memindahkan pusat pemerintahannya dari Kota Tinggi (Johor) ke Riau di Hulu Sungai Carang (Pulau Bintan). Perang saudara itu dimenangkan oleh Tengku Sulaiman dan saudaranya yang dibantu oleh lima orang bangsawan Bugis Luwu, yaitu Daeng Perani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, Daeng Kemasi dan Daeng Menambun. Yang mana seterusnya Tengku Sulaiman mendirikan kerajaan baru yaitu Kerajaan Johor-Riau-Lingga, pada 4 Oktober 1722.[1] Sedangkan Raja Kecil menyingkir ke Siak dan seterusnya mendirikan Kesultanan Siak.
Yang Dipertuan Muda Riau
Pada masa Kerajaan Johor-Riau-Lingga, Pulau Penyengat tetap berperan
sebagai pusat pertahanan sekaligus tempat kediaman dan pusat
pemerintahan dari Yang Dipertuan Muda Johor-Pahang-Riau-Lingga. Di
kerajaan Riau-Lingga terdapat dua posisi jabatan utama, yaitu Yang
Dipertuan Besar atau Sultan yang berkedudukan di Daik, Lingga dan Yang
Dipertuan Muda yang berkedudukan di Pulau Penyengat. Walaupun lebih
rendah kedudukan Yang Dipertuan Muda, tetapi dia mengatur pemerintahan,
angkatan perang, perekonomian dan masalah-masalah operasional lainnya.[1]
Bangunan Bersejarah
Masjid Raya Sultan Riau
Masjid
ini awalnya dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Kemudian pada
masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, tahun 1832
masjid ini direnovasi dalam bentuk yang terlihat saat ini. Bangunan
utama masjid ini berukuran 18 x 20 meter yang ditopang oleh 4 buah tiang
beton. Di keempat sudut bangunan, terdapat menara tempat Bilal
mengumandangkan adzan. Pada bangunan Masjid Sultan Riau terdpat 13 kubah
yang berbentuk seperti bawang. Jumlah keseluruhan menara dan kubah di
Masjid Sultan Riau sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat
salat wajib lima waktu sehari semalam.
Di sisi kiri dan kanan bagian depan masjid terpdat bangunan
tambahan yang disebut dengan Rumah Sotoh (tempat pertemuan). Menurut
sejarahnya, masjid ini dibangun dengan menggunakan campuran putih telur,
kapur, pasir dan tanah liat.
Mushaf al-Quran
Terdapat
dua buah al-Quran tulisan tangan yang tersimpan di dalam Masjid Sultan
Riau Pulau Penyengat. Salah satu yang diperlihatkan kepada pengunjung
adalah hasil goresan tangan Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau
Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam
ilmu Agama Islam, sekembalinya dari belajar dia menjadi guru dan
terkenal dengan "khat" gaya Istambul. Al-Quran ini diselesaikan pada
tahun 1867 sambil mengajar. Keistimewaan al-Quran Mushaf Abdurrahman
Stambul ini adalah banyaknya penggunaan "Ya Busra" serta beberapa rumah
huruf yang titiknya sengaja disamarkan sehingga membacanya cenderung
berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan ilmunya.
Istana Kantor
Istana
Kantor adalah istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali
(1844-1857), atau juga yang disebut dengan Marhum Kantor. Selain
digunakan sebagai kediaman, bangunan yang dibangun pada tahun 1844 ini
juga difungsikan sebagai kantor oleh Raja Ali.
Istana Kantor berukuran sekitar 110 m2 dan menempati areal
sekitar satu hektar yang seluruhnya dikelilingi tembok. Bangunan dan
puing yang masih ada memperlihatkan kemegahannya pada masa lalu.
Balai Adat Melayu
Balai
Adat Pulau Penyengat adalah replika rumah adat Melayu yang pernah ada
di Pulau Penyengat. Bangunan Balai Adat merupakan rumah panggung khas
Melayu yang terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk menyambut
tamu atau mengadakan perjamuan bagi orang-orang penting.
Di dalam gedung, kita dapat melihat tata ruang dan beberapa benda
perlengkapan adat resam Melayu, serta berbagai perlengkapan atraksi
kesenian yang digunakan untuk menjamu tamu-tamu tertentu.
Di bagian bawah Balai Adat ini terdapat sumur air tawar yang
konon sudah berabad lamanya dan sampai sekarang airnya masih mengalir
dan dapat langsung diminum.
Monumen Bahasa Melayu
Pada tanggal 19 Agustus 2013, telah diletakkan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Melayu di areal dalam bekas Benteng Kursi, Pulau Penyengat, oleh Gubernur Kepulauan Riau, HM Sani. Pembangunan monumen ini merupakan wujud penghormatan dan penghargaan Pemerintah Provinsi Kepri terhadap jasa-jasa Raja Ali Haji sebagai pahlawan nasional di bidang bahasa. Selain itu juga untuk lebih mengenalkan tentang asal dan arti bahasa Melayu yang dipakai di Kepulauan Riau dan Lingga, serta bahasa Indonesia yang digunakan saat ini.[4]
Monumen Bahasa Melayu dibangun sebagai tindak lanjut dari dari
mufakat 12 kebudayaan Melayu antara Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM)
Kepri dan LAM Provinsi Riau pada saat seminar nasional bahasa Indonesia
di Pekanbaru, Riau, 2010 lalu, yang dihadiri masing-masing gubernur.[4]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar